PENGANTAR FILSAFAT ILMU DAN LOGIKA
“ KONSEP LOGIKA
BAHASA “

OLEH :
ADIN ANDRIAWAN
C1A115004
KELAS A
JURUSAN
ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016
LOGIKA BAHASA
Seiring dalam perkembangan zaman, manusia sering
mengabaikan logika dalam berfikir dan membuat aturan. Kebanyakan orang-orang
tersebut menganggap remeh tentang logika dan berfikir seenaknya saja, mereka
menginginkan hal yang mudah dan praktis. Sehingga yang terjadi adalah
kejanggalan-kejanggalan dalam komunitas masyarakat banyak.
Dibalik itu semua, diantara hubungan logika dengan
ilmu-ilmu lain, terutama hubungan logika dengan bahasa sangat berpengaruh dalam
kehidupan. Sekaligus untuk eksistensi masa depan yang lebih terpapar dan
terencana. Yang prosesnya memang tidak mudah sebagaimana keinginan masyarakat
saat ini yang berbeda jauh. Logika dan bahasa adalah dua kesatuan yang saling
berhubungan erat.
Berikut akan kami paparkan pengertian dari
masing-masing poin dan hubungan antara keduanya.
PENGERTIAN LOGIKA
Logika adalah Ilmu tentang berfikir secara rasional
untuk mencari kebenaran. Bagian dari filsafat yang objek penyelidikannya adalah
budi atau akal.
Budi adalah salah satu sifat yang diberikan Tuhan Yang
Maha Esa kepada manusia yang juga disebut sebagai hati nurani atau budi nurani.
Budi nurani adalah pencerminan terbatas dari Tuhan Yang Maha Esa , maka dalam
logika yang namanya Budi itu tidak hanya diselidiki tetapi juga sebagai alat.
Pengertian Logika Menurut Para Pakar:
Drs. Hasbullah. Bakry
- Menyatakan
di dalam bukunya “Sistematika Filsafat” Logika adalah ilmu yang mengatur
penelitian hukum-hukum akal manusia sehingga menyebabkan pikiran dapat
mencapai kebenaran.
- Logika
ilmu yang mempelajari pekerjaan akal yang dipandang dari jurusan benar dan
salah.
- Logika
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aturan-aturan dan cara berfikir
yang dapat menyampaikan manusia kepada kebenaran
- Predjowiyatna
Yang dimaksud logika adalah Filsafat
Budi yang mempelajari teknik berfikir untuk mengetahui bagaimana manusia
berfikir dengan semestinya atau dengan seharusnya.
Fungsi budi disini salah satu sifat
yang diberika Tuhan YME untuk mencari kebenaran, Budi teknik berfikir, hati
kecil.
2. Drs. Soemardi Soeryabrata
Logika adalah salah satu cabang
filsafat, kata logika menunjukkan berbagai arti dalam filsafat dapat dibagi
menjadi 6 arti pokok :
- Logika
sebagai ajaran berfikir;
- Logika
sebagai ajaran tentang pernyataan yang tertib dan jelas;
- Logika
sebagai ajaran ilmu pengetahuan;
- Logika
sebagai teknik ilmu pengetahuan;
- Logika
sebagai teori pengetahuan;
- Logika
sebagai metafisika akal;
Logika merupakan cabang filsafat dan juaga sebagai
cabang ilmu pengetahuan ,logika adalah istilah yang yang dibentuk dari kata logikos, yang
berasal dari kata benda logos. Kata logos berarti suatu yang di utamakan,
suatu pertimbangan akal (pikran), kata, percakapan, atau ungkapan lewat bahasa.
Logos berarti yang bersifat praktis berpangkal pada
penalaran, dan sekaligus juga sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu.
Dengan fungsi sebagai dasar filsafat dan sarana ilmu karena logika merupakan
“jembatan penghubung” antara filsafat dan ilmu, yang secara terminologis logika
didefinisikan: Teori tentang penyimpulan yang sah. Penyimpulan pada dasarnya
bertitik tolak dari suatu pangkal-pikir tertentu, yang kemudian ditarik suatu
kesimpulan. Penyimpulan yang sah, artinya sesuai dengan pertimbangan akal dan
runtut sehingga dapat dilacak kembali yang sekaligus juga benar, yang berarti
dituntut kebenaran bentuk sesuai dengan isi.
Sejarah Penggunaan Logika
Logika
lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan
pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak
jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.
Logika
digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara
tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga
bisa dianggap sebagai cabang matematika.
Logika
dimulai sejak Thales (624 SM - 548 SM), filsuf Yunani pertama yang
meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan
berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta.
Thales
mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama
alam semesta. Aristoteles kemudian mengenalkan logika
sebagai ilmu, yang kemudian disebut logica scientica. Aristoteles
mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan bahwa air adalah arkhe alam
semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu.
Dalam
logika Thales, air adalah arkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles
disimpulkan dari:
Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa
air tumbuhan mati)
Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia
Air jugalah uap
Air
jugalah es
Pada abad 9 hingga abad 15, buku-buku Aristoteles
seperti De Interpretatione, Eisagoge oleh Porphyus dan karya
Boethius masih digunakan.Thomas Aquinas 1224-1274 dan
kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika. Lahirlah logika
modern dengan tokoh-tokoh seperti:Petrus Hispanus 1210 - 1278). Roger
Bacon 1214-1292.
Raymundus Lullus (1232 -1315) yang
menemukan metode logika baru yang dinamakan Ars Magna, yang merupakan semacam aljabar
pengertian. William Ocham (1295 - 1349) .
Pengembangan dan penggunaan logika Aristoteles secara murni diteruskan oleh
Thomas Hobbes (1588 - 1679) dengan
karyanya Leviatan dan John Locke (1632-1704) dalam An
Essay Concerning Human Understanding. Francis Bacon (1561 - 1626)
mengembangkan logika induktif yang diperkenalkan dalam bukunya Novum Organum
Scientiarum. J.S. Mills (1806 - 1873)
melanjutkan logika yang menekankan pada pemikiran induksi dalam bukunya System
of Logic.
RUMUS LOGIKA
BAHASA
Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan
hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Contoh argumen deduktif:
1. Setiap
mamalia punya sebuah jantung
2. Semua kuda
adalah mamalia
3. Setiap kuda
punya sebuah jantung
Penalaran induktif kadang
disebut logika induktif adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian
fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Contoh argumen induktif:
1. Kuda Sumba
punya sebuah jantung
2. Kuda
Australia punya sebuah jantung
3. Kuda Amerika
punya sebuah jantung
4. Kuda Inggris
punya sebuah jantung
5. Setiap kuda
punya sebuah jantung
Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa ciri utama
yang membedakan penalaran induktif dan deduktif dalam logika
|
Deduktif
|
Induktif
|
|
Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar
|
Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tapi
tak pasti benar.
|
|
Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah
ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis.
|
Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan
secara implisit, dalam premis.
|
Bahasa merupakan pernyataan pikiran atau perasaan
sebagai alat komunikasi manusia. Dan khusus alat komunikasi ilmiah disebut
dengan bahasa ilmiah, yaitu kalimat berita yang merupakan suatu
pernyataan-pernyataan atau pendapat-pendapat. Bahasa sangat penting juga dalam
pembentukan penalaran ilmiah karena penalaran ilmiah mempelajari bagaimana
caranya mengadakan uraian yang tepat dan sesuai dengan pembuktian-pembuktian
secara benar dan jelas. Bahasa secara umum dibedakan antara bahasa alami dan
bahasa buatan. Bahasa alami ialah bahasa sehari-hari yang biasa digunakan untuk
menyatakan sesuatu, yang tumbuh atas dasar pengaruh alam sekelilingnya,
dibedakan antara bahasa isyarat dan bahasa biasa. Bahasa buatan ialah bahasa
yang disusun sedemikian rupa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akal pikiran
untuk maksud tertentu, yang dibedakan antara bahasa istilahi dan bahasa
artifisial. Bahasa buatan inilah yang
dimaksudkan bahasa ilmiah, dirumuskan bahasa buatan yang diciptakan oleh para
ahli dalam bidangnya dengan menggunakan istilah-istilah atau lambang-lambang
untuk mewakili pengertian-pengertian tertentu.
Sebagai pernyataan pikiran atau perasaan dan juga
sebagai alat komunikasi manusia karena bahasa mempunyai 3 fungsi pokok, yakni
fungsi ekspresif atau emotif, fungsi afektif atau praktis, dan fungsi simbolik
dan logik. Khusus untuk logika dan juga untuk bahasa ilmiah yang harus
diperhatikan adalah fungsi simbolik karena komunikasi ilmiah bertujuan untuk
menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan. Agar komunikasi ilmiah ini
berjalan dengan baik maka bahasa yang dipergunakan harus logik terbebas dari unsur-unsur
emotif.
Bahasa yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan atau
kalimat deklaratif jika ditinjau berdasarkan isinya dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu pernyataan analitik dan pernyataan sintetik.
Pernyataan (statement) dalam logika ditinjau dari segi
bentuk hubungan makna yang dikandungnya, pernyataan itu disamakan juga dengan
proposisi. Proposisi atau pernyataan berdasarkan bentuk isinya dibedakan antara
3 macam, yakni proposisi tunggal, proposisi kategorik, dan proposisi majemuk.
Tiga macam proposisi atau pernyataan di atas yang
sebagai dasar penalaran adalah proposisi kategorik untuk penalaran kategorik,
dan proposisi majemuk untuk penalaran majemuk. Adapun proposisi tunggal atau
proposisi simpel pengolahannya dapat masuk dalam penalaran kategorik dan dapat
juga masuk dalam penalaran majemuk.
Arti Pengertian dan Term
Pengertian adalah
gambaran dari sesuatu yang ada dalam pikiran kita yang dapat dilihat oleh akal
kita. Pengertian juga disebut juga sebagai ” konsep terhadap sesuatu”. Sedangkan term adalah ungkapan
pengertian dalam bentuk kata atau beberapa kata.
Misal : Istilah
“biologi” yang terbentuk dari dua suku kata yaitu “bios” dan “logos”. Ide atau
konsep yang terkandung dalam dua rangkaian kata itu disebut sebagai pengertian
atau apa yang dimaksud dengan istilah “biologi”. Sedangkan istilah “biologi”
itu adalah term.
Kata “manusia”, dalam
gambaran kita bila orang menyebut “manusia”, telah tergambar dalam akal budi
tentang apa yang ditunjukkan dengan kata”manusia” itu. Gambaran inilah yang
disebut sebagai pengertian, sedangkan kata “manusia” yang merupakan ekspresi
dari dari pengertian itu disebit dengan term.
Jadi ekspresi
pengertian dalam bentuk kata atau beberapa kata disebut term.
Term sebagai ungkapan
pengertian, jika terdiri dari satu kata atau satu istilah maka term dikatakan
sebagai term
sederhana atau term simpel,
seperti manusia , gajah, negara, dan lainnya. Dan jika terdiri dari beberapa
kata maka term itu dinamakan term komposit atau term kompleks,
misal : reaktor atom, sejarah kontemporer, sejarah ekonomi, dan sebagainya.
Term komposit ini walaupun masing-masing bagian mempunyai pengertian
sendiri-sendiri, tetapi jika digabungkan hanya menjadi satu pengertian.
Kata atau istilah yang
untuk mengungkapkan pengertian juga sebagai simbol dari pengertian. Term
berarti kata suatu kesatuan kata-kata yang dapat dipergunakan sebagai subyek
atau prediket logika. Term (kata) yang tak mungkin digunakan dalam logika
bukanlah merupakan sebuah term, meskipun setiap term itu terdiri dari
kata-kata. Dengan demikian dapat dikatakan juga term adalah simbol atau
kesatuan beberapa simbol yang dapat untuk menyatakan suatu pengertian. Kata
sebagai simbol yang dapat untuk menyatakan suatu pengertian dibedakan atas
menjadi dua macam yaitu kata kategorimatis dan kata sinkategorimatis. Kata kategorimatis ialah
kata yang dapat mengungkapkan sepenuhnya suatu pengertian yang berdiri sendiri
tanpa bantuan kata lain, meliputi: nama diri, kata sifat, istilah yang
mengandung pengertian umum. Kata
sinkategorimatis ialah kata yang tidak adapat
mengungkapkan suatu pengertian yang berdiri sendiri jika tidak dibantu oleh
kata lain, misalnya kata: adalah, jika, semua, maka, dan sebagainya.
KONOTASI DAN DENOTASI
Setelah mengerti
dengan pengertian term, selanjutnya yang penting diketahui adalah konotasi dan
denotasi. Konotasi dengan istilah lain berarti intensi atau isi, sedangkan
denotasi dengan istilah lainnya berarti ekstensi atau lingkungan. Konotasi dan
denotasi term ini merupakan hal mutlak untuk penalaran.
Konotasi
Konotasi adalah
keseluruhan arti yang dimaksudkan oleh suatu term. Yang dimaksudkan dengan keseluruhan arti adalah
kesatuan antara unsur dasar dengan sifat pembeda yang bersama-sama membentuk
suatu pengertian. Jadi, jika ingin menguraikan konotasi suatu term tidak jarang
harus menggunakan banyak kata. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dapat
dinyatakan bahwa konotasi tidak lain adalah isi atau apa yang termuat dalam
suatu term, misal term”manusia:
Konotasi term manusia adalah “hewan yang berakal budi”
atau secara terurai dapat dirumuskan “substansi (unsur dasar) yang berbadan,
berkembang, berperasa dan berakal (sifat-sifat pembeda)”.
Konotasi term ”demokrasi” adalah suatu bentuk
pemerintahan (sebagai unsur dasar atau jenis) yang berdasarkan atas tuntutan
dari rakyat yang dipertimbangkan oleh rakyat untuk kepentingan rakyat (sebagai
sifat pembeda).
Konotasi kata term “hukum” adalah peraturan (sebagai
unsure dasar atau jenisnya) yang bersifat memaksa (sebgai sifat pembeda atau
pemisahnya)
Di
sini jelas bahwa konotasi term adalah
suatu definisi. Tetapi tidak semua definisi adalah konotasi term., hal ini akan
dibahas pada bab definisi.
Denotasi
Setiap term mempunyai
denotasi atau lingkungan. Denotasi adalah
keseluruhan hal yang ditunjuk oleh term, atau dengan kata lain keseluruhan hal
sejauh mana term itu dapat diterapkan. Contoh diatas tadi meliputi “manusia”,
“demokrasi”, “hukum”, denotasinya sebagai berikut:
Denotasi term
“manusia” yang didefinisikan sebagai hewan berakal , dapat diterapkana pada bangsa
Indonesia, bangsa Cina, bangsa Yahudi.
Denoatasi term
”demokarasi” ynag telah didefinisikan, dapat diterapkan sebagai demokrasi
Indonesia, demokarasi Amerika.
Denotasi term ”hukum”
yang telah didefinisikan, dapat diterapkan pada hukum pidana, hukum perdata,
hukum positif, dan dalam bentuk hukum lainnya.
Denotasi term ini
menunjukkan suatu himpunana, karena sejumlah hal-hal yang ditunjukkan itu
menjadi suatu kesatuan denag ciri-ciri tertentu. Atau, dengan adanya
sifat-sifat yang diuraikan oleh konotasi (isi term) maka dapatlah dihimpun
beberapa hal tertentu
Hubungan Konotasi dan Denotasi
Kalau
denotasi diartikan luas cakupannya dari suatu term, sedangkan konotasi berarti
isi yang dikandung term itu. Antara denotasi dengan konotasi mempunyai kaitan
yang erat, sebab keduanya saling ketergantungan. Jika konotasi bertambah maka
denotasi berkurang, dan sebaliknya. .Untuk itu digunakan dalam kaedah seperti
berikut ini:
1.
Jika denotasi bertambah, konotasi berkurang
2.
Jika denotasi berkurang, konotasi bertambah
3. Jika konotasi bertambah, denotasi berkurang
4.
Jika konotasi bertambah, denotasi berkurang.
Contoh
: term “demokrasi”, jika hanya kata demokrasi saja, maka denotasinya yang dapat
dicakupnya sangat luas, baik demokrasi Amerika Serikat, demokrasi di Uni
Sovyet, dan demokrasi yang ada di Indonesia. Tetapi bila ditambah dengan ciri
pembeda dengan kata “pancasila”, dalam arti “demokrasi pancasila”, maka hanya
dapat diterapkan dalam diterapkan di negara yang berdasarkan “pancasila” saja,
yaitu negara Indonesia saja.
Contoh
lain misalnya term “negara”. Jika penggunaan term ”negara” ini sebagai
konotasinya adalah “organisasi masyarakat dalam suatau wilayah yang bertujuan
kesejahteraan umum dan tunduk pada satu pemerintahan pusat”, maka denotasinya
ialah semua negara-negara yang ada di dunia sejak dahulu hingga sekarang, Jika
pada konotasi term “negara” ini ditambahkan dengan “tunduk pada satu
pemerintahan pusat yang dipilih oleh rakyat”, maka penambahan ini ini akn
melahirkan pengertian baru yaitu “negara demokrasi”. Dengan demikian
denotasinya tidak memasukkan negara-negara totaliter dan negara-negara absolut
dan bentuk-bentuk lainnya.
JENIS-JENIS TERM
1.
Pembagian term menurut konotasi
1.
Term konkrit artinya suatu term yang menunjukkan suatu
benda yang mempunyai kualitas dan eksistensi, seperti meja, rumah, dan radio
2.
Term abstrak yaitu term yang menyatakan kualitas atau
kualitas yang terlepas dari eksistensi tertentu, misalnya putih, merah dan
kekuatan, kepahlawanan.
2.
Pembagian term menurut denotasi
a) Term umum yaitu
dapat mencakup setiap anggota suatu klas dengan arti yang sama, misalnya:
mahasiswa, buku, warga, dan lain-lain. Kemungkinan pemakaian term umum bagi
benda-benda yang terbatas jumlahnya dalam suatu klas tergantung pada kenyataan
bahwa benda-benda ini memilki sifat umum. Term Umum masih dibagi menjadi :
1.
Universal: Sifat umum yang berlaku di dalamnya tidak
terbatas oleh ruang dan waktu, misal orang , manusia, mahasiswa.
2.
Kolektif : Sifat umum yang berlaku di dalamnya
menunjukkan pada suatu kelompok tertentu sebagaian kesatuan, misalnya : rakyat
Indonesia, bangsa Cina, Mahasiswa UGM.
2.
Term Khusus : yaitu hanya menunjukan sebagian dari
keseluruhan sekurang-kurangnya satu bagian atau satu hal. term khusus juga
dibedakan yaitu :
1.
Partikuler : Sifat khusus yang berlaku di dalamnya
hanya menunjukan sebagian tidak tertentu dari suatau keseluruhan, misalnya:
sebagian manusia, sebagian mahasisiwa, sebagian hewan yang dapat hidup di air.
2.
Singular : sifat khusus yang berlaku di dalamnya hanya
menunjukkan pada satu hal atau satu himpunan yang mempunyai hanya satu anggota,
misalnya: presiden pertama RI, dosen logika FIB.
2.
Pembagian Term menurut kandungan makna.
1.
Makna penuh yaitu bila makna suatu term itu
betul-betul sepenuhnya arti yang yang dikandungnya. Seperti: “Saya membeli
rumah”, pengertian rumah di sini betul-betul rumah dalam arti yang sebenarnya
bukan sebagian dari rumah.
2.
Makna kandungan yaitu bila dengan term itu yang
dimaksud hanya sebagian dari term yang dinyatakan. Seperti : “Saya sedang
memompa sepeda”, maka yang dipompa adalah ban sepeda, bukan sepeda.
3.
Makna lazim yaitu bila term itu yang dimaksud sama
sekali dikeluarkannya, tetapi lazim mengikuti trem yang disebut. Seperti: “Tadi
pagi saya memasak di rumah”, maksudnya ialah memasak di dapur, sebab dapur adalah
bagian dari rumah.
3.
Pembagian term menurut kategori
1.
Substansi, suatu zat dasar yang diliki oleh suatu yang
dapat berdiri sendiri; manusia, singa, pohon, bunga adalah semua pengertian
yang dinyatakan secara gramatikal.
2.
Kuantitas, jumlah atas sekian banyak diri atau pun
satu diri yang memiliki besaran atau ukuran/memiliki nilai dan satuan; besar,
kecil, panjang, lebar, dalam, dan sejenisnya.
3.
Kualitas, sifat perwujudan sebagai ciri atau tanda
pengenal; putih, panas, dingin, bagus, baik, dan sejenisnya.
4.
Relation (hubungan), hubungan dengan berbagai hal
lain; mirip, sama, majikan, hamba, guru, murid, dan sejenisnya.
5.
Aksi (tindakan), tindakan yang mempengaruhi dalam
perbuatan; membangun, mengajar, melahirkan, dan sejenisnya.
6.
Passi, kesan yang dipengaruhi dari perbuatan;
dibangun, diajar, dilahirkan, dan sejenisnya
7.
Ruang, tempat yang menyertai di mana sesuatu itu ada;
di sini, di situ, di rumah, di kamar, dan sejenisnya.
8.
Waktu, tempo yang menyertai kapan sesuatu itu ada;
sekarang, kemarin, besok, bulan depan, dan sebagainya.
9.
Posisi, kedudukan sesuatau itu berada dalam suatu
tempat; duduk berdiri, berlutut, dan sebagainya.
10. Keadaan,
kepunyaan khusus yang menyertai kedudukan; bersenjata, berpakaian, dan
sebagainya
PENGERTIAN BAHASA
Adalah sebagai alat komunikasi untuk
kita mengungkapkan pikiran kita guna memperoleh pengetahuan yang benar.
- Bahasa
yang baik dan benar dalam praktik kehidupan sehari-hari hanya dapat
tercipta apabila ada kebiasaan atau kemampuan dasar dari setiap orang
untuk berpikir logis.
- Sebaliknya,
suatu kemampuan berpikir logis tanpa kemampuan bahasa yang baik, maka ia
tidak akan dapat menyampaikan isi pikiran kepada orang lain.
HUBUNGAN LOGIKA DENGAN BAHASA
- Bahasa
merupakan alat berpikir yang apabila dikuasai dan digunakan dengan tepat,
maka akan dapat membantu kita memperoleh kecakapan berpikir, berlogika
dengan tepat.
- Fungsi
bahasa:
- Fungsi
ekspresif.
- Fungsi
direktif.
- Fungsi
informatif.
- Contoh
history: Sultan Mehmed II memarintahkan prajuritnya utk menguasai bahasa
romawi dalam upaya menaklukan kota KonstantinopelTugas dan Objek Logika
- Tugas
dan Objek Logika
Tugas logika juga memberikan
penerangan bagaimana seharusnya orang berpikir (Poedjawiyatna, 1978:2). Sedang
objek penyelidikan logika adalah manusia itu sendiri.
Tujuan mempelajari logika adalah
memecahkan masalah atau mencari jawab permasalahannya yang dapat dirumuskan:
bagaimana seharusnya manusia dapat berpikir dengan baik dan benar.
Logika
sepadan dengan bahasa
- Suatu
pengertian dihubungkan dengan pengertian lain, akan
menghasilkan putusan. Beberapa putusan dihubungkan,
akan menghasilkan suatu penyimpulan
- Begitu
juga bahasa. Satuan terkecil yang memiliki arti adalah “kata”. Dua atau lebih kata digabung, akan membentuk kalimat. Kalimat-kalimat
kita susun menjadi suatu komposisi.
- Dengan
demikian, unsur-unsur pokok pemikiran manusia
(pengertian, putusan dan penalaran / penyimpulan)
mendapat padanannya dalam bahasa.
Kesejajaran
antara logika dan bahasa
Pengertian (konsep),
term - Kata (morfem)
Putusan (proposisi) - Kalimat
Penalaran/penyimpulan - Komposisi
Namun logika bukanlah
bahasa
- Bahasa ada bermacam-macam, gramatika
dan kosa
katanya berbeda
- Namun kaidah berpikir ilmiah
diharapkan sama,
walau diungkapkan dengan bahasa-bahasa
yang strukturnya berbeda.
- Jadi, di balik keanekaan bahasa, diandaikan adanya satu kaidah berpikir, yaitu logika.
- Hal yang kita tunjuk dengan kata
Indonesia ‘pasar’, dapat
diungkapkan dengan aneka kata lain, ‘market, ‘Markt’,
‘marche’, dsb. Semua kata itu punya arti atau
acuan yang sama. Dan itulah yang kita sebut dalam
logika sebagai ‘konsep’ atau “pengertian”.
- Begitu
juga hubungan antara konsep dengan konsep
(yang menghasilkan
putusan), meskipun diatur oleh gramatika yang berbeda-beda, namun didasari oleh relasi logis yang sama.
- Maka,
dibalik aneka perbedaan tata bahasa itu, kita perlu mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya mau diungkapkam melalui ungkapan verbal
atau tulisan itu.
Misalnya:
- “Ibu tidak pergi ke pasar”
(Indonesia)
- “Mather doesn’t go to the
market” (Inggris)
- “Muter gehst nicht nach den
Markt” (Jerman)
Bandingkan kata kerja dari ketiga
kalimat itu (tidak pergi, melakukan tidak pergi, pergi tidak). Ketiganya
jelas berbeda, namun relasi logis di belakangnya tetap sama, yakni hanya mau
menyatakan bahwa konsep ‘A’ (ibu) dan konsep ‘B’ (orang yang pergi ke pasar)
tidak berhubungan.
Jadi relasi logisnya hanya mau
mengatakan bahwa A bukanlah B, atau
: A ¹ B
- Logika
dan Bahasa
Pengetahuan sebagai hasil proses
tahu manusia baru tampak nyata apabila dikatakan. Artinya diungkapkan dalam
bentuk kata atau bahasa. Dalam ilmu pengetahuan, bahasa harus mampu
mengungkapkan maksud si penutur dengan setepat-tepatnya. Bahasa ilmu
pengetahuan harus logis. Ilmu berarti pengetahuan-tahu, sebagai hasil proses
berpikir harus mengikuti aturan-aturan, yaitu logika.
1 Proposisi
Proposisi adalah pernyataan tentang
hubungan yang terdapat diantara dua term, atau pernyataan dalam bentuk kalimat
yang dapat dinilai benar dan salahnya.
Menurut
Logika tradisional, proposisi mestilah terdiri atas tiga bagian, yaitu subyek,
predikat dan kopula. Kopula mesti ada dan fungsinya menyatakan hubungan yang
terdapat antara subyek dan predikat. Hubungan yang dinyatakan oleh kopula
mungkin berupa afirmasi (pembenaran), artinya kopula menyatakan bahwa diantara
subyek dan predikat memang sesungguhnya terdapat suatu hubungan, dan munkgkin
pula kopula menyatakan negasi (pengingkaran), artinya kopula menyatakan bahwa
antara subyek dan predikat tidak terdapat suatu hubungan apapun.
Proposisi
mestilah mempunyai kopula di dalamnya. Sebuah “kalimat” walaupun sudah
mempunyai subyek dan predikat, belumlah lagi akan dianggap sebagai proposisi
bila didalamnnya tidak ada kopula
Dalam Logika dikenal adanya dua macam proposisi, menurut
sumbernya, yaitu proposisi analitik dan proposisi sintetik. Proposisi analitik
adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang sudah terkandung
pada subyeknya, seperti: Mangga adalah buah-buahan, kuda adalah hewan dan ayah
adalah orang laki-laki.Kata “hewan” pada contoh
“Kuda
adalah hewan”
pengertiannya
sudah terkandung pada subyek “kuda”. Jadi predikat pada proposisi analitik
tidak mendatangkan pengetahuan baru.
Proposisi
sintetik adalah proposisi yang predikatnya mempunyai pengertian yang bukan
menjadi keharusan bagi subyeknya,
seperti: “Papaya itu manis,”” gadis itu gendut” dan “plato
adalah orang kaya raya”.
Kata
“manis” pada proposisi “pepaya itu manis” pengertiannya belum terkandung pada
subyeknya, yaitu “pepaya”. Jadi kata “manis” merupakan pengetahuan baru yang
didapat melalui pengalaman.
Konklusi
Konklusi adalah pengetahuan yang kita peroleh secara tak
langsung karena kita mengetahui sesuatu itu tidak secara langsung, melainkan
dengan perantaraan sesuatu yang lain yang telah kita ketahui lebih dulu.
Contohnya ialah, “kita mengetahui adanya api melalui adanya
asap”.
Untuk
memahami proposisi dan konklusi, terlebih dahulu haruslah mengetahui masalah
tentang jenis-jenis dari proposisi dan konklusi itu sendiri. Setidaknya, jika
kita telah memahami kedua hal tersebut, maka pemahaman dari Logika yang ada
bahasannya tentang proposisi dan konklusi bisa lebih bertambah lagi, terutama
dalam kehidupan sehari-hari
Kesimpulan
Dapat dijelaskan bahwa hasil yang
diperoleh dari mempergunakan suatu teknik (logika), akan tergantung dari
baik-buruknya alat bahasa yang digunakan.
Penggunaan bahasa sebagai alat
logika harus memperhatikan perbedaan antara bahasa sebagai alat logika dan
bahasa sebagai alat kesusasteraan. Kita ambil contoh dari pernyataan “Lukisan
itu tidak jelek”, maka yang saya maksud lukisan itu belum dapat dikatakan
indah, atau saya bermaksud lukisan itu belum dapat dikatakan indah, namun saya
tidak berani untuk mengatakan bahwa lukisan itu jelek. Logika hanya dapat
memperhitungkan penilaian-penilaian yang isinya dirumuskan secara seksama,
tanpa suatu nilai perasaan.
Penggunaan bahasa sebagai alat dari
logika masih memiliki kekurangan. Contohnya puisi yang diubah ke dalam bentuk
prosa. Puisi tadi akan kehilangan nilai puisi-nya, pikiran yang tadi muncul
didalam puisi dengan indahnya tidak lagi menghantarkan maknanya kepada si
pembaca. Hakekat kesusastraan berada di atas hubungan dan batas-batas logika,
bahkan keindahana dalam puisi bertentangan syarat-syarat logika.
Begitu pula terjadi didalam
peribahasa, perumpamaan-perumpamaan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari
mungkin dapat dimengerti seperti “bintang lapangan”, “kupu-kupu malam”.
Syarat-syarat logika dalam pembentukan peribahasa diabaikan didalam susunan
kata –katanya dan isinya.
Bahasa sebagai alat logika memiliki
kekurangan–kekurangan, karena sebagaian besar bahasa berkembang dan dipengaruhi
oleh proses berpikir secara pre-logis (tidak logis) seperti simbolisme didalam
mitologi.
Jadi,bahasa memiliki dua fungsi yang
dilihat dari segi perkembangannya. Bahasa lebih mudah digunakan pada
kesusastraan daripada sebagai alat pemikiran ilmiah umumnya khususnya pada
logika.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar